Titikkota.com – Bulukumba, Pedagang kaki lima (PKL) menjerit akibat aturan yang ditetapkan pengurus mesjid Islamic Center Dato Tiro (ICDT) Bulukumba.
Pungutan infak yang cukup besar dianggap sangat memberatkan para PKL apalagi ditengah lesunya kondisi ekonomi saat ini.
Salah satu PKL yang tak ingin disebutkan namanya menuturkan kesedihannya dengan adanya aturan ini tanpa melibatkan para PKL dalam penentuan tarif tersebut.
“Aturannya langsung saja dibuat tanpa ada pertemuan dengan pedagang. Kita disuruh bayar 1,4 juta untuk lapak yang agak besar dan sekitar 350 ribu untuk lapak kecil. Padahal kami ini sudah beberapa tahun berjualan di ICDT” tuturnya.
Menanggapi hal tersebut aktivis permerhati sosial Indra Bangsawan yang juga merupakan anggota dari LSM L- PATI mengatakan bahwa apa yang dilakukan oleh pengurus ICDT Bulukumba adalah hal yang keliru.
Dia mengatakan bahwa seharusnya mesjid harus dapat menjadi salah satu garda terdepan dalam peningkatan ekonomi dan kesejahteraan ummat bukan justru malah sebaliknya “membunuh” mereka dengan aturan yang mencekik.
“Ini sudah bukan infak namanya. Kalo Infak itu sifatnya sukarela tidak ada paksaan, fleksibel tidak ada batasan dan atas dasar keikhlasan.” Jelasnya.
“Saya menilai ini sudah termasuk pajak yang ditarik oleh mereka karena ada nominal yang ditentukan, harus ditaati dan ada sanksi. Mereka dilarang berjualan jika tidak mau ikut aturan.” imbuhnya.
Ditegaskan oleh Indra agar keputusan sepihak ini ditinjau ulang demi kemaslahatan ummat.
“Sebaiknya penentuan tarif ini melibatkan PKL dengan melihat kondisi mereka dan kondisi daya beli masyarakat yang sedang lesu akibat inflasi demi kesejahteraan ummat.” tegasnya.
Pihaknya juga mengingatkan tentang larangan menarik pajak atau pungutan secara dzalim.
“Agama melarang kita memungut pajak secara dzalim apalagi hal ini dilakukan dilingkup keagaaman. Celakah para pemungut pajak yang dzalim mereka di azab di neraka.” kata Indra.
Hingga berita ini dirilis belum ada klarifikasi dari pihak pengurus.
Pesan whatssap dan panggilan belum direspon oleh ketua harian ICDT Bulukumba.**
