Titikkota.com – Bulukumba — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Bulukumba menjadi sorotan setelah muncul dugaan ditemukannya ulat pada salah satu menu makanan yang dibagikan kepada siswa di salah satu sekolah di Kecamatan Bontotiro kabupaten bulukumba. 30/09/2026
Informasi tersebut terjadi pada Selasa (29/9/2026), saat makanan program MBG dibagikan kepada siswa di salah satu sekolah penerima manfaat di wilayah tersebut.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, dugaan temuan ulat tersebut terdapat pada menu sayuran dalam salah satu ompreng makanan yang diterima siswa MIS Al-Khaerat Tudonro, Desa Bonto Bulaeng, Kecamatan Bontotiro kabupaten bulukumba.
Makanan MBG tersebut diduga berasal dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bontotangnga, yang menjadi salah satu penyedia makanan dalam pelaksanaan program MBG di wilayah Kabupaten Bulukumba.
Menanggapi informasi tersebut, Aktivis Asatu, M. Rijal, mendesak Koordinator Wilayah (Korwil) MBG Kabupaten Bulukumba segera turun ke lapangan untuk melakukan pemeriksaan dan investigasi.
Menurut Rijal, pemeriksaan diperlukan untuk memastikan kebenaran informasi sekaligus mengetahui bagaimana dugaan temuan tersebut dapat terjadi.
“Informasi ini perlu segera ditindaklanjuti dengan pemeriksaan langsung di lapangan. Jangan sampai persoalan seperti ini dibiarkan karena menyangkut makanan yang dikonsumsi oleh anak-anak,” ujar M. Rijal.
Sementara itu, salah seorang guru MIS Al-Khaerat Tudonro yang dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp membenarkan adanya dugaan temuan tersebut.
Guru tersebut menyampaikan bahwa ulat diduga ditemukan pada menu sayuran di salah satu ompreng makanan MBG. Menurut keterangan guru tersebut, makanan itu belum sempat dikonsumsi oleh siswa.
“Di salah satu ompreng, di menu sayuran, ada ulat dan untung belum dimakan sama anak,” ungkapnya melalui pesan WhatsApp.
Atas kejadian tersebut, M. Rijal meminta pihak terkait tidak hanya melakukan klarifikasi, tetapi juga melakukan pemeriksaan secara menyeluruh terhadap proses penyediaan makanan MBG.
Pemeriksaan, kata dia, perlu mencakup proses pengolahan bahan makanan, kebersihan, penyimpanan, pengemasan, hingga pendistribusian makanan dari SPPG Bontotangnga kepada sekolah penerima manfaat.
Menurutnya, pemeriksaan tersebut penting untuk memastikan makanan yang disalurkan melalui program MBG memenuhi standar keamanan pangan dan kelayakan konsumsi, mengingat makanan tersebut diperuntukkan bagi anak-anak sekolah.
“Harus ada pemeriksaan menyeluruh agar diketahui sumber persoalannya. Jangan hanya berhenti pada klarifikasi, tetapi harus dipastikan bagaimana proses pengolahan sampai makanan tersebut diterima oleh anak-anak,” ujar Rijal.
Hingga berita ini diterbitkan, Korwil MBG Kabupaten Bulukumba yang telah dihubungi melalui pesan WhatsApp untuk dimintai tanggapan mengenai dugaan temuan tersebut belum memberikan respons.
Dugaan temuan ulat dalam menu MBG tersebut masih memerlukan pemeriksaan dan verifikasi dari pihak terkait untuk memastikan kronologi, kondisi makanan, serta sumber permasalahan secara menyeluruh.
