Titikkota.com – Kajang, Bulukumba – Sebuah video keresahan warga di Desa Bonto Baji, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba, terkait distribusi Makan Bergizi Gratis (MBG) sempat viral di media sosial pada Sabtu (18/04/2026). Warga menahan distribusi sejumlah porsi makanan setelah ditemukan indikasi lauk pauk (telur) yang belum matang sempurna.
Respons Cepat Prosedur Uji Organoleptik
Menanggapi hal tersebut, Koordinator Wilayah (Korwil) MBG Kabupaten Bulukumba, Wahyu, memberikan klarifikasi terkait kronologi dan langkah penanganan di lapangan. Menurutnya, insiden tersebut merupakan bagian dari fungsi pengawasan yang dilakukan oleh kader dan Person In Charge (PIC) di titik distribusi.
“Kader melaporkan adanya ompreng dengan kondisi telur kurang matang kepada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Sesuai prosedur, pihak SPPG langsung mengambil tindakan penarikan dan melakukan penggantian saat itu juga,” ujar Wahyu saat dikonfirmasi.
Ia menjelaskan bahwa dalam setiap distribusi, terdapat PIC yang bertugas melakukan Uji Organoleptik—yakni pemeriksaan fisik makanan secara langsung—sebelum dikonsumsi oleh sasaran (ibu hamil, balita, dan ibu menyusui). Jika hasil pemeriksaan menunjukkan kualitas yang kurang baik, makanan wajib dilaporkan dan segera diganti.
Pihak penyelenggara memastikan bahwa kendala teknis tersebut telah teratasi dalam waktu singkat. Pada pukul 11.40 WITA, seluruh paket makanan yang sempat ditarik telah didistribusikan kembali dalam kondisi layak dan siap santap.
Mengenai video yang beredar, Wahyu menilai hal tersebut sebagai bentuk transparansi dan komunikasi warga agar pihak SPPG segera melakukan perbaikan.
Evaluasi dan Investigasi Lanjutan
Meski penanganan cepat telah dilakukan, Korwil MBG Bulukumba menegaskan akan tetap melakukan evaluasi mendalam untuk mencegah kejadian serupa terulang.
“Kami akan melakukan tindakan tegas dan memastikan kembali di mana letak kelalaian ini, apakah pada mitra Kepala SPPG atau relawan di lapangan. Kualitas dan keamanan pangan bagi kelompok rentan adalah prioritas utama kami,” tegasnya.
Warga Desa Bonto Baji, khususnya para ibu, berharap agar pengawasan kualitas (QC) lebih diperketat sejak dari dapur produksi. Hal ini krusial mengingat sasaran program adalah kelompok yang sangat sensitif terhadap risiko bakteri pada makanan setengah matang.
Dengan adanya mekanisme Uji Organoleptik yang berjalan, diharapkan masyarakat tetap tenang dan terus berpartisipasi aktif dalam mengawasi jalannya program nasional ini demi kesehatan generasi mendatang di Kabupaten Bulukumba.






