Ditanya Soal Carut Marut Bibit Ketahanan Pangan, Dinas PMD Bulukumba Irit Bicara

Titikkota.com – Bulukumba – Program penyaluran bibit ketahanan pangan yang didanai melalui Alokasi Dana Desa (ADD) menuai kritik dari Lembaga Asatu. Aktivis Asatu, M. Rijal, menduga lemahnya pengawasan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Kabupaten Bulukumba yang dinilai membuka celah terjadinya penyimpangan dalam pelaksanaan program tersebut.

Dinas PMD sejatinya memiliki peran penting dalam pengawasan anggaran belanja bibit ketahanan pangan di desa, melalui pembinaan, fasilitasi, monitoring, dan evaluasi pengelolaan Dana Desa secara umum. Meski tidak melakukan audit fungsional secara langsung, PMD bertanggung jawab memastikan pemerintah desa menjalankan program sesuai kebijakan dan prosedur yang berlaku.

M. Rijal menegaskan bahwa program ketahanan pangan, yang berdasarkan regulasi wajib dialokasikan minimal 20 persen dari Dana Desa, seharusnya menjadi ujung tombak peningkatan ekonomi masyarakat dan ketersediaan pangan lokal. Namun, hasil pantauan di sejumlah desa menunjukkan adanya ketidaktransparanan dalam proses penyaluran bibit.

“Kami menemukan berbagai kejanggalan di lapangan, mulai dari kualitas bibit yang diragukan, pendataan penerima yang tidak jelas, hingga potensi mark-up anggaran. Kondisi ini diduga terjadi akibat minimnya pendampingan serta pengawasan berkala dari Dinas PMD,” ungkap M. Rijal

Ia juga menilai rendahnya sosialisasi kepada masyarakat menjadi indikator lemahnya akuntabilitas pengelolaan dana publik tersebut.

Menurutnya, keterlibatan warga dalam perencanaan dan pelaksanaan program masih sangat minim, padahal program ketahanan pangan menyentuh langsung kepentingan masyarakat desa.

“Kami mendesak Dinas PMD Bulukumba agar lebih proaktif menjalankan fungsi pengawasan. Selain itu, kami juga meminta aparat penegak hukum untuk melakukan audit terhadap penggunaan dana ketahanan pangan di desa-desa,” tegasnya.

Sementara itu, upaya konfirmasi kepada Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Bulukumba telah dilakukan. Namun, tanggapan yang disampaikan melalui pesan WhatsApp hanya berupa ucapan singkat, “Terima kasih dan bantuannya pak,” tanpa penjelasan lebih lanjut terkait kritik yang disampaikan.

Editor : Gw

Pos terkait